Ket. Poto Ilustrasi
Rohil – Niat baik mengurus administrasi kependudukan justru berakhir dengan kekecewaan mendalam dan rasa tersinggung. Seorang warga Teluk Pulau bernama Erna, diperlakukan sembarangan sebagai calo oleh Kepala UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kecamatan Rimba Melintang, Khairul Saleh.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, dan kini menuai kecaman luas karena sikap pejabat tersebut dinilai sangat arogan, sombong, serta jauh dari jiwa pelayanan publik.Kejadian bermula saat Erna datang ke kantor pelayanan dengan tujuan cara pengurusan. Saat ditanya keperluan, Erna menjawab sopan: "Mau urus KK adek."
Kemudian bertanya keberadaan saudara yang bersangkutan, dan Erna pun menjelaskan duduk perkaranya: "Adik saya ada, cuma saya yang mewakili. Dia minta tolong saya karena memang tidak paham prosedur dan dia buta huruf, jadi sulit kalau harus datang sendiri."
Alih-alih memahami kondisi warga yang memiliki keterbatasan dan butuh pendampingan, jawaban yang terlontar dari mulut Khairul Saleh justru sangat menyakitkan dan merendahkan. Dengan nada sinis dan meremehkan, ia berkomentar: "Matanya kan gak buta."
Belum hilang rasa kaget atas ucapan yang tidak berperikemanusiaan itu, perlakuan buruk berlanjut. Tanpa mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut, tanpa verifikasi, dan tanpa dasar bukti apa pun, Khairul Saleh langsung memvonis dan menuduh Erna serta rombongannya sebagai CALO.
"Kami sangat tersinggung. Belum sempat kami jelaskan panjang lebar, sudah langsung dibilang calo. Padahal kami sama sekali tidak ada niat buruk, murni cuma mau menanyakan prosedur pengurusan data penduduk yang benar," ungkap Erna dengan nada kecewa.
Saat Erna dan bersama suaminya berusaha meluruskan kesalahpahaman dan ingin menjelaskan kembali maksud kedatangan mereka, penjelasan itu justru dibungkam dan tidak direspon sama sekali. Sikap arogan dan sombong Khairul Saleh semakin terlihat jelas saat ia berkata dengan nada meremehkan: "Bawa aja orangnya, aku jelaskan pun kalian gak akan mengerti bahasa dia tadi."
Kalimat itu menjadi puncak kekecewaan. Erna menegaskan, satu-satunya tujuan mereka hanyalah ingin mengurus dokumen negara. Namun, alih-alih dibantu, mereka malah dipermalukan, dihina, dan status mereka sebagai masyarakat biasa pun direndahkan.
"Kenapa pelayanan Kepala UPTD seperti itu? Kasar bicara, merendahkan status kami, dan bersikap seolah dia pemilik kantor ini. Tugasnya kan membantu masyarakat, tapi kenyataannya malah merendahkan masyarakat. Sikap sombong dan arogan seperti itu sama sekali tak patut ditiru," tegas Erna.
Suara tuntutan pun kini bergema kian keras. Warga meminta Bupati Rokan Hilir untuk tidak diam saja. Keberadaan oknum yang bersikap arogan dan sombong seperti ini dinilai mencoreng nama baik pemerintahan daerah serta merusak citra pelayanan publik yang seharusnya prima.
PP"Bupati wajib bertindak! Jangan biarkan oknum seperti ini terus memangku jabatan dan menyakiti hati rakyat. Pelayanan publik bukan tempat pamer kekuasaan, tapi tempat mengabdi. Khairul Saleh harus ditindak tegas agar ada efek jera," tegas warga dalam unggahan yang menyebar luas.
Masyarakat berharap kepemimpinan Kabupaten Rokan Hilir mendengar suara ini, mengambil langkah tegas, dan memastikan pelayanan administrasi kembali berjalan ramah, sopan, serta menghargai setiap warga negara tanpa terkecuali.