(Momenriau.com Kepri). "Desa Pasir Panjang, Pulau Rempang pernah menjadi sasaran rencana proyek Rempang Eco-City atau Proyek Strategis Nasional (PSN) di tahun 2023. Nek Amlah (107 tahun) , salah satu warga paling lanjut usia di Desa tersebut menjadi perhatian karena kegigihanya bertahan di salah satu kampung tua tersebut", demikian informasi yang diterima redaksi pada hari Selasa (10/03- 2026).
Kami meminta tanggapan dan komentar dari seorang aktivis yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat yaitu Nukila Evanty karena beliau (Nukila Evanty-red) kebetulan melakukan kunjungan ke Desa Pasir Panjang Rempang pada tanggal 07 s/d 09 Maret 2026.
Nukila Evanty, Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA) ingin melepas rindu pada Nek Amlah yang sudah lama tak dikunjunginya, tepatnya sejak 2024 lalu, sekaligus Nukila ingin mendengar situasi di lapangan dan kebutuhan langsung kelompok-kelompok terdampak PSN termasuk perempuan, anak-anak dan lansia juga Nek Amlah.
Mengawali pemaparannya (Nukila Evanty-red), "Nek Amlah memandang saya, lupa-lupa ingat katanya dalam bahasa melayu. Dia (Nek Amlah -red) menyatakan sedikit kekawatiran kalau harus pergi dari tanah kelahirannya. Sambil bercerita dia (Nek Amlah-red), menunjukkan hasil karyanya dari daun pandan, berupa tudung saji dan tikar. Nek Amlah memberikan saya tudung saji yang pada akhirnya saya pergunakan untuk penutup kepala".
"Nek Amlah menyebutkan, telah lama mendiami Desa Pasir Panjang, sejak tahun 1918. Dia (Nek Amlah-red) menyebut, dahulu masih asri penuh dengan hutan. Rumah Nek Amlah berlokasi dekat pantai dan hidup tenang sebagai nelayan tradisional", imbuh Nukila.
"Nek Amlah bersama 23 orang lanjut usia lainnya di Pasir Panjang memberitahukan pada saya (Nukila-red) bahwa akses kesehatan sudah mulai membaik di Desa Pasir Panjang dengan tersedianya satu Puskesmas. Namun sesuatu yang paling mengkhawatirkan adalah situasi rumah bantuan untuk Nek Amlah. Keluarga Nek Amlah mengucap syukur ada bantuan, tetapi belum bisa dikatakan memenuhi unsur rumah yang layak bagi Nek Amlah. Atap rumah belum selesai. Menurut saya, pemerintah perlu punya standar pagu khusus untuk bantuan rumah sangat sederhana (RSS), saya cek ke pak RT pagu yang didapat 10 juta rupiah, padahal untuk renovasi rumah Nek Amlah yang tak layak huni tersebut diperkirakan akan dibutuhkan lebih dari 20 juta", jelas Nukila Evanty.
"Nek Amlah ini perlu ruang rumah yang lantai rumah tidak licin, atap rumah tidak bocor, pintu rumah yang kokoh karena beliau tinggal sendiri. Saya juga melihat WC atau toilet kurang besar, bahkan toilet berdekatan tanpa ada sekat/pemisah. Disamping kondisi rumah Nek Amlah yang demikian itu, sekarang kesehatan beliau agak mengkhawatirkan", tegas Nukila.
Menurut anak dan cucu Nek Amlah, beliau sekarang lebih sering bangun, ke kamar mandi/toilet pada malam hari, yang menyedihkan, beliau kadang-kadang sering jatuh juga, jadi perlu perhatian pemko Batam untuk memperhatikan toilet yang akses mudah buat lansia.
Nggak semua lansia mau dibantu pake pampers orangtua. Kalau Pemko Batam bisa berikan alat bantu jalan atau tongkat khusus atau kursi roda sebagai pegangan buat Nek Amlah biar tidak mudah jatuh. Hendaknya disediakan juga buat lansia dan orang -orang dengan disabilitas lainnya.
"Saya juga merekomendasikan pada Pemko Batam agar menyediakan kendaraan untuk situasi emergency, bisa berupa ambulance. Jika terjadi sesuatu bisa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dan ambulance sangat diperlukan juga di pasir panjang ini untuk perempuan yang perlu persalinan cepat, orang-orang yang terluka dan sebagainya", kata Nukila.
"Saya juga meminta pada Pemko Batam untuk menyediakan vitamin atau suplemen untuk orang tua. Saya dengar sendiri , Nek Amlah mengeluh tulang punggungnya nyeri. Perlu pemahaman Pemko Batam, bahwa lansia di Indonesia dijamin hak-haknya, mereka punya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan sarana khusus", tegas Nukila.
Nukila dengan nada tegas mengingatkan Pemko Batam dengan mengatakan, "Lansia berhak mendapatkan jaminan sosial tunai dan non tunai, kemudahan transportasi, kesempatan kerja bagi lansia yang potensial bahkan pelayanan mental spiritual. Negara, keluarga, dan bahkan masyarakat di Batam bertanggung jawab untuk menghormati dan melindungi, hak-hak lansia. Saya juga menilai bahwa perhatian Pemko Batam masih kurang terhadap pendidikan anak, terasa jauh buat anak-anak berjalan kaki kesekolah mereka. Jangan dipikirkan MBG aja, tetapi juga transportasi buat anak -anak dan fasilitas pendidikan lainnya juga sangat dibutuhkan mereka".
"Saya mendengar harapan masyarakat Desa Pasir Panjang agar mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa becak atau kendaraan bis kecil lainnya yang bisa untuk antar jemput anak sekolah", kata Nukila lagi.
"Saya juga, setiap dari Batam jalan yang mulus, namun begitu sampai di desa ini, harus bersiap-siap off road, karena jalan masuknya buruk sekali, apalagi pada saat hujan, jalan menjadi sangat licin. Semoga apa yang saya sampaikan ini, dapat didengar oleh Pemko Batam", demikian Nukila Evanty mengakhiri. (Edysam).