(Momenriau.com). Bagi seorang aktivis hak-hak masyarakat adat dan budayawan seperti Nukila Evanty, dengan jam terbang sudah cukup panjang melalui berbagai kondisi dan tantangan demi tantangan terus menerpa, maka kemampuannya dalam bertindak dengan cermat dan terukur, tentu tidak diragukan lagi.
"Sebagai seorang aktivis, saya sudah cukup banyak makan asam garam dilapangan", ujar Nukila mengawali paparannya kepada media ini pada Kamis (15/01-2026).
"Saya saat ini lagi berjuang, agar suku laut atau orang laut terutama di kepulauan Riau, tepatnya di Batam dan sekitarnya dapat terselamatkan", tegas Nukila lagi.
Nukila yang kami kenal ini, merupakan Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA), menjelaskan kepada media ini tentang, mengapa suku laut makin tergerus.
"Saya baru melakukan riset advokasi di suku laut Kepulauan Batam, berlokasi pulau Gara, pulau Bertam dan pulau Air Mas. Semuanya menghadapi masalah yang sama, mereka dipindah ke darat yang kononnya tanpa persetujuan mereka. Mereka (suku laut-red), tiba-tiba mendengar khabar harus pindah, di karenakan ada proyek kawasan ekonomi khusus atau proyek ekstraktif", Nukila menambahkan.
"Disamping itu, suku laut ini mengalami apa yang disebut kemiskinan struktural, miskin karena sumber laut menipis akibat kerusakan lingkungan dan pembangunan industri ekstraktif, serta identitas budaya sebagai suku laut bahkan terancam. Tidak cukup sampai disitu saja, mereka (suku laut-red) oleh pihak-pihak tertentu, dipaksa pula hidup menetap didarat", ujar Nukila geram.
"Selain itu, mereka (suku laut-red), termasuk salah satu masyarakat seperti terbelakang karena kurangnya akses pendidikan, sehingga membuat banyak tradisi atau pengetahuan laut ditinggalkan, meskipun sebagian suku laut masih bertahan dengan tradisi peninggalan nenek moyang mereka (suku laut-red) yaitu melaut
sampai kearah pulau Natuna dan Anambas. Bahkan suku laut selalu berhadapan dengan kapal-kapal besar yang melakukan penangkapan ikan berlebihan (illegal fishing) yang dapat merusak ekosistem laut termasuk terumbu karang yang sama-sama kita ketahui adalah sebagi sumber makanan ikan dan teripang", jelas Nukila.
Lebih lanjut Nukila menjabarkan, "Beberapa orang suku laut yang sebagai nelayan kelompok marjinal menyebutkan, pada Desember lalu, sumber daya laut sepertinya sudah menipis, kondisi seperti ini, telah memaksa mereka (suku laut-red) mencari nafkah sampai jauh kelautan luas dan bahkan sampai ke laut perbatasan".
"Beberapa suku laut yang sudah didaratkan (dipindahkan rumahnya kedarat-red) mengeluh kepada saya bahwa, pekerjaan didarat sangat sulit, karena mereka kurang punya keterampilan dan pendidikan formal, sehingga banyak yang akhirnya terjebak kemiskinan atau menjadi pemulung", kata Nukila.
"Fenomena lain yang saya temui adalah, beberapa suku laut telah memiliki kayakinan memeluk Agama, ada yang beragama Islam, Kristen dan menikah dengan suku lain, berasimilasi dengan masyarakat Melayu, serta meninggalkan kebiasaan lama karena dunia yang berubah", kata Nukila.
"Tetapi, ketika saya bertemu dengan salah satu pemimpin suku laut, mereka (suku laut-red), kurang suka bila disebut sebagai suku melayu. Oleh karena itu, saya menyarankan kepada pemerintah, terutama pemerintah daerah di Kota Batam dan atau Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau, agar lebih banyak bertemu dan berdialog dengan suku laut ini. Tolong tanyakan kebutuhan dan tantangan mereka. Saya juga menyarankan, pada level Kementrian, agar lebih melindungi budaya kehidupan bahari suku laut yang meliputi, bahasa suku laut, ritual selamatan laut, kearifan dalam melaut (mengenal gejala alam, musim), teknik menangkap ikan tradisional serta melestarikan kepercayaan unik mereka, seperti upacara pernikahan di sampan dan pengobatan tradisional yang menunjukkan hubungan erat mereka (suku laut-red) dengan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus spiritual bagi mereka (suku laut-red)", Nukila Evanty mengakhiri pemaparannya kepada media ini.
(Sumber: Nukila Evanty/Editor:Edysam).