Rohil — Di tengah riuhnya pesta demokrasi Pemilihan Penghulu Serentak 2026 di Kabupaten Rokan Hilir, satu nama mencuat bukan karena harta, bukan karena kekuasaan, melainkan karena ketulusan hatinya.
Nama itu: Saparudin, atau yang akrab disapa Wak Udin oleh seluruh warga Desa Pematang Sikek, Kecamatan Rimba Melintang.
Bukan kemewahan yang membuat namanya santer dibicarakan. Ia dikenal hidup sederhana, namun hatinya seluas samudera. Selama bertahun-tahun, Pak Udin selalu ada saat warga kesulitan — membantu dengan tenaga, pikiran, maupun materi semampunya, tanpa pernah mengharap balasan.
"Selama ini kami melihat Pak Saparudin sudah membuktikan kepeduliannya. Bukan janji manis di panggung, tapi nyata di tengah kesulitan kami. Kami ingin pemimpin yang lahir dari hati rakyat," ujar seorang tokoh masyarakat.
Kini, anak muda, orang tua, hingga tokoh agama bersatu menyuarakan satu nama: Saparudin. Bukan karena ia kaya raya, melainkan karena ia dekat, paham rasa, dan tidak pernah memalingkan wajah dari tetangganya.
Ketika dikonfirmasi awak media, Senin (21/9/2026), Wak Udin menyatakan langkah majunya bukan atas ambisi pribadi — melainkan atas dorongan tulus warga.
"Saya maju bukan untuk memperkaya diri. Tujuan saya hanya satu: membenahi kampung halaman kita, agar Desa Pematang Sikek lebih maju, pelayanan lebih baik, dan rakyat sejahtera," tegasnya.
Bagi warga Pematang Sikek, jawabannya sudah jelas: calon pemimpin bukan yang paling berkilau, melainkan yang paling peduli.

