Ketua IMA ; "Memperkuat Ruang Aman bagi Petani Perempuan Di Desa Sumber Jaya, Jambi".

Selasa, 12 Desember 2023 - 11:33:00 WIB

(Momenriau.com). Sebagai Penasehat hukum dan Gender Asia Centre, Direktur Eksekutif Women Working Group (WWG), Penasehat pada Business and Human Rights Centre Universitas RMIT, Australia mengatakan, "Sebanyak 50 petani perempuan di Desa Sumber Jaya, Kabupaten Muaro Jambi, telah membentuk komunitas "Perempuan  Padek" (PEPA) sebagai tindakan solidaritas dan perlawanan terhadap diskriminasi yang mereka alami dari PT FPIL. Aksi ini dipicu oleh vonis hukuman terhadap Bahusni, Ketua Serikat Tani Kumpeh, yang dijatuhi pidana penjara selama 1 tahun dan enam bulan oleh Pengadilan Negeri Muaro Jambi pada hari Rabu, 6 Desember 2023".

Nukila Evanty, SH, LL.M , MILIR, SJD, sebagai Ketua Inisiasi Masyarakat Adat (IMA)  menyebutkan, "inisiatif yang dilakukan organisasinya,  sebagai bentuk penguatan perempuan di wilayah-wilayah yang mengalami konflik tenurial".  
    “Perempuan paling terdampak dari adanya konflik tenurial seperti ini, di beberapa lokasi kita datangi juga melakukan penguatan-penguatan secara hukum, mental dan ekonomi. Saya melihat konflik perebutan sumber daya alam yang sama di Rempang, Kepri,  Air Bangis di Sumbar  dan Pangkalan Susu di Sumut. Perempuan ini berdampak ganda terhadap rusaknya lingkungan, hilangnya sumber penghidupan, obat-obatan. Beberapa perempuan mengeluhkan lebih rentan depresi, sakit secara fisik dan kehilangan kebahagiaan", kata Nukila.
    Tidak hanya mendapatkan pemahaman hukum, komunitas PEPA juga diberi materi mental healing dari Psikolog Dessy Pramudiani sekaligus Dosen Prodi Psikologi Unja. Dessy melihat persoalan konflik lahan ini mempengaruhi kehidupan keseharian, traumatic tidak hanya bagi perempuan tapi juga anggota keluarga lainnya seperti anak dan suami. “Perlu adanya kegiatan yang mendukung untuk meningkatkan kepercayaan diri petani perempuan tersebut, ada beberapa orang yang memang memerlukan konseling pribadi karena mengarah ke gejala depresi", jelasnya.
    Yusnidar menatap botol berisi cairan kuning yang bernama eco enzim, enzim multiguna yang dihasilkan dari kulit-kulit buah segar menjawab tingginya harga pupuk untuk lahan pertanian mereka. Yusnidar baru saja memanen kacang panjang ketika mengikuti pelatihan budidaya rempah-rempah secara organik.
    Lisani, menyebutkan rempah-rempah seperti jahe, kunyit, serai masih dianggap untuk kebutuhan rumah tangga terutama bumbu masakan. Berbagai olahan jahe bernilai jual tinggi, bisa menjadi sumber peningkatan pendapatan keluarga bagi petani. “Jangan dinilai ini jahe cuma buat bumbu, ada jahe hitam yang harganya bisa 500 ribu rupiah per kilogram. Kita bisa mulai menanam, di setiap rumah ada tanaman rempah-rempah, sehingga ke depan bisa jadi kampong rempah dan menarik banyak cuan tentunya", katanya saat mengisi materi.
    Nukila melihat, dukungan pendampingan ekonomi juga akan memberikan warna baru bagi perjuangan yang dilakukan. 
    “Kelompok PEPA ini bisa membuka mata semua orang bahwa desa yang berada dalam situasi konflik dan perjuangan. Juga mampu memberikan warna lain, misalnya mereka menggerakkan desa melalui komoditi rempah-rempah ini. Selain meningkatkan perekonomian, Desa bisa menjadi tujuan wisata kebun rempah, karena potensinya banyak sekali. Semakin banyak orang yang datang mengunjungi, semakin banyak yang berempati pada perjuangan petani di sini", tandasnya.
    Dia menambahkan aksi solidaritas dan perlawanan PEPA diharapkan dapat menjadi sorotan nasional dan internasional terhadap isu perlindungan hak-hak petani dan perempuan di sektor pertanian.

Oleh   : Nukila Evanty, SH, LL.M , MILIR, SJD.
Editor : Edysam.