Rohil – Semarak dan kebersamaan mewarnai perayaan hari ulang tahun Dewa Hian Tien Siong Tei yang digelar di Kelenteng Po San Thua, Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Acara yang menjadi bagian warisan budaya ini tak hanya dihadiri warga lokal, tapi juga tokoh-tokoh komunitas Tionghoa yang datang dari berbagai daerah, termasuk dari Jakarta.
Salah satu tokoh yang hadir dan memberikan pandangan mendalam terkait makna di balik perayaan ini adalah Dr. Andy Chandra Setiadji, SH., MH. Menurutnya, kegiatan ini memiliki tujuan utama yang mulia: mempersatukan seluruh warga komunitas Tionghoa yang ada di wilayah tersebut.![]()
"Dilaksanakan setiap tahun, perayaan ini bukan sekadar ritual semata. Konon, sosok yang diperingati ini dikenal senantiasa menolong sesama—baik yang sedang sakit, membutuhkan rezeki dalam usaha, maupun yang menghadapi kesulitan hidup lainnya," ungkap Dr. Andy saat diwawancara pada Sabtu malam, 26 April 2026.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa acara ini juga menjadi wujud nyata semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Melalui ajaran agama Konghucu yang dijalankan di kelenteng ini, nilai kebersamaan dan kerukunan terus ditumbuhkan, sejalan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda namun tetap satu kesatuan.
Yang paling menarik, menurut Dr. Andy, acara ini terbuka untuk siapa saja tanpa membedakan latar belakang kepercayaan. "Semua agama dipersilakan hadir—baik Islam, Kristen, maupun lainnya. Jika setiap pemeluk agama berusaha menjadi insan yang bertakwa, maka hasilnya pasti tercipta suasana yang rukun, adil, damai, dan penuh kesejahteraan bagi kita semua."
Ia pun mengutip nilai luhur yang juga dipegang dalam ajaran agama lain, termasuk Islam, yang menyatakan "bagimu agamamu, bagiku agamaku"—sebagai landasan untuk saling menghormati satu sama lain.
Menurut pengurus Dewan Pengawas Ikatan Media Online (IMO) Indonesia ini, kelenteng Po San Thua juga berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui kegiatan yang diadakan, nilai-nilai kebaikan, kesopanan, dan akhlak yang mulia terus diajarkan, karena pada dasarnya semua ajaran agama senantiasa mengajarkan hal-hal yang baik dan benar.
Perayaan ini pun menjadi bukti bahwa warisan budaya dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan antar seluruh warga masyarakat di tengah keberagaman yang ada.

